Kamis, 15 Desember 2022

Hidup Esensialisme

Hidup Esensialisme

 

 

1.    Pengertian Gaya Hidup Esensialisme

Kita pasti pernah merasakan kalau pekerjaan yang kita lakukan setiap hari tidak ada habisnya. Kita sibuk selama 8 jam kerja bahkan kadang meninggalkan waktu dengan keluarga namun masih belum bisa merasa produktif. Jika kita pernah merasakan hal tersebut maka kita bisa menerapkan Gaya Hidup Esensialisme. Dalam teori ini bukan membahas tentang bagaimana kita memenejemen waktu atau bagaimana kita bisa melakukan hal yang produktif namun disiplin yang sistematis dalam memilih sesuatu dan meninggalkan yang lain. sehingga kita lebih bisa fokus kepada hal-hal yang lebih penting. Gaya hidip esensialisme akan membuat kita punya kontrol atas apa yang kita ingin kerjakan bukan karena paksaan situasi atau kondisi namun kita memilih mana yang akan kita kerjakan.

Gaya Hidup Esensialisme, merupakan gaya hidup yang kita pegang kendalinya. Artinya kita menentukan apa yang mau kita kerjakan bukan hanya mengikuti alur saja. Ketika memilih sesuatu kita harus berpikir dahulu bukan melakukannya dengan spontan. Kita hendaknya membuat satu pilihan penting daripada banyak pilihan namun tidak penting. Sesekali kita coba untuk berhenti melakukan semua hal, berhenti mengiyakan semua orang atas kemauannya maka dengan begitu kita akan bisa lebih fokus dan memberikan hasil yang lebih besar.

Mungkin kita sering melakukan pamer kepada semua orang dengan kesibukan yang kita lakukan, kita mersa kalau kita sibuk dipandang sebagai orang yang produktif. Padahal kesibukan bukanlah tolak ukur dari produktivitas. Padahal, kesibukan merupakan teori tolak ukur yang buruk dari produktivitas. Tolak ukur yang benar dalam penentuan produktivitas adalah kita mampu memprioritaskan hal mana yang bermanfaat bagi kita nantinya. Kita harus berani memilih pilihan yang sulit dan mengorbankan banyak pilihan yang kurang penting demi sedikit hal penting dalam hidup. Jika kita tidak memfokuskan energi kita pada hal yang kita prioritaskan, maka orang lain yang akan mengatur pilihan kita. Pilihan orang lain belum tentu baik bagi kita karena kita yang bisa mengukur kemampuan kita dalam melakukan sesuatu hal dan bukan mereka.

Memang ketika kita hidup, kita akan diberikan pilihan secara alami. Disitu kita berhak memilih dari beberapa pilihan yang telah diberikan. Kadang apa yang kita kerjakan sama pentingnya dengan apa yang kita tidak kerjakan. Maksudnya semua dari pilihan yang kita buat pasti ada konsekuensinya. Jika kita melakukan semua hal apakah hasilnya akan sesuai dengan harapan? Atau kita memilih salah satu pilihan dan fokus menjalankan tugas itu dengan sebaik-baiknya. Ini adalah sebuah dasar pondasi berpikir yang harus kita mengerti dan pahami. Jangan sampai kita terjebak dangan banyaknya pilihan yang banyak namun kehilangan waktu dalam melakukan tugas utama dalam hidup.

Pendekatan Hidup Esensialisme dibagi menjadi tiga tahapan sebagai berikut.

1)    Eksplorasi dan Evaluasi

Dalam tahapan ini, kita banyak-banyak melakukan proses eksplorasi, mendengarkan, berebat, bertanya dan berpikir. Eksplorasi ini digunakan untuk memilah dan memilah kegiatan mana yang akan dijadikan prioritas atau sebaliknya (ditinggalkan).

2)    Hilangkan

Dalam tahapan ini kita berhak memilih dan menghilangkan aktivitas mana yang berhak kita lakukan dan mana yang kita hilangkan.

3)    Jalankan (Implementasi)

Investasikan waktu yang sudah dihemat dalam sebuah kerja dan membuat eksekusi yang semudah mungkin.

Ketiga tahapan diatas adalah satu kesatuan utuh dalam satu siklus yang bergantung satu sama lain.

 


 

2.    Kemampuan Untuk Memilih

Pada tahapan ini seseorang dengan kemampuan hidup esesialisme jika dihadapkan dengan dua pekerjaan maka dia akan menggunakan pemikiran kritis untuk memilih salah satu yang lebih utama dan meninggalkan yang lain untuk bisa fokus dan mendapatkan hasil terbaik. Meninggalkan pekerjaan lain artinya bukan menyerah, namun itu merupakan salah satu proses kehidupan yang memang harus dihadapi supaya kita lebih dewasa dan matang. Dengan memilih salah satu, kita artinya juga tidak boleh menyia-nyiakan apa yang sudah kita pilih dan menjalaninya dengan segala kemampuan yang kita miliki.

Ada sebuah prespektif lain yang mengatakan bahwa “tidak mengerjakan apa-apa atau mengerjakan semua hal adalah tanda dari ketidak berdayaan”. Artinya bahwasannya kita seharusnya memiliki space untuk memilih sesuatu yang kita sudah anggap penting bukan menjadi pribadi yang pasif karena ketidak tahuan akan sesuatu ataupun kita mengerjakan semua pekerjaan karena tekanan dari orang lain.

Pernahkah kita merasa sangat bingung dengan banyaknya pekerjaan yang harus kita lakukan? Apakah pernah kita merasakan karena terlalu banyaknya pekerjaan menjadikan kita sampai tidak tahu mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu dan akhirnya sampai tidak melakukan pekerjaan itu sama sekali?. Untuk mengatasi tekanan atas pekerjaan yang kita lakukan kita membutuhkan space to design atau ruang cukup untuk menenangkan diri, fokus dan melihat pekerjaan mana yang akan kita kerjakan dari berbagai sisi. Kita setiap hari harus meluangkan waktu untuk melakukan space to design supaya kita bisa melepaskan kebingungan dari banyaknya tugas atau rutinitas yang ada. Yang kedua, space to concentrate. Space ini adalah waktu yang kita butuhkan untuk berpikir. Sesibuk apapun jadwal perkerjaan yang kita lakukan hendaknya kita harus mampu menyisipkan waktu untuk berpikir tentang prioritas memilih. Ketiga, space to read. Dalam space ini kita bisa membaca-baca banyak literatur baik itu penelitian, koran atau buku-buku bacaan yang relevan untuk memperkaya pengetahuan kita tentang suatu sebelum kita memilihnya. Dalam tahap ini pula  kita memerlukan kondisi lingkungan yang mendukung untuk terciptanya pikiran yang tenang dan kritis.

 

3.    Berlatih Berpikir Esensialisme

Secara singkat esensialisme kita artikan sedikit tapi lebih baik. Dalam pilihan ini kita  berperan sebagi editor bagi kehidupan kita dengan memilih hal yang esensial dan menghindari hal yang kurang esensial. Cara berlatihnya adalah dengan pola pikir ninety % rule, cara ini dilakukan dengan melakukan penilaian pada beberapa pilihan dengan satu kriteria penting. Lalu berikan skor dengan rentangan 0-100 pada pilihan yang ada. Jika hasil yang didapatkan kurang dari ninty (90) maka tinggalkan pilihan itu dan pindah pada pilihan yang melebihinya. Untuk memudahkan dalam memilih priotitas, terdapat 4 Kuadran yang harus kita ketahui.

1)    Penting dan mendesak.

Dalam kuadran ini kita hanya boleh memasukkan hal-hal yang penting dan mendesak yang harus dikerjakan pada saat itu. Hal yang harus dihindari pada kuadran ini adalah menunda-nunda waktu.

2)    Dua Penting namun tidak mendesak.

Pilihan kedua ini adalah memasukkan hal-hal yang dianggap penting dan mengerjakannya sedikit demi sedikit. Dalam kuadran ini kita harus membuat jadwal penyelesaian program agar bisa selesai tepat waktu.

3)    Mendesak namun tidak penting.

Pada kuadran kita memasukkan hal-hal yang kita anggap mendesak namun sifatnya tidak penting. Dalam hal ini kamu bisa bertanya pada teman apakah dalam pekerjaan ini bisa diwakilkan atau tidak.

4)    Tidak penting dan tidak mendesak.

Dalam kuadran ini yang sering kita terjebak didalamnya seperti aktivitas memainkan media sosial ketika jam kuliah atau rapat, menggosip dengan teman atau sibuk di depan smartphone tanpa ada tujuan yang jelas.

 

“Dalam hidup kita harus memilih. Bukan masalah mempersempit pilihan kita namun kita harus memberikan prioritas yang bermanfaat untuk kehidupan kita sendiri, bukan orang lain”.

 

Pelajari materi lengkapnya di Channel Si Kutu Buku