Hidup
Esensialisme
1. Pengertian Gaya
Hidup Esensialisme
Kita pasti pernah merasakan kalau
pekerjaan yang kita lakukan setiap hari tidak ada habisnya. Kita sibuk selama 8
jam kerja bahkan kadang meninggalkan waktu dengan keluarga namun masih belum
bisa merasa produktif. Jika kita pernah merasakan hal tersebut maka kita bisa
menerapkan Gaya Hidup Esensialisme. Dalam teori ini bukan membahas
tentang bagaimana kita memenejemen waktu atau bagaimana kita bisa melakukan
hal yang produktif namun disiplin yang sistematis dalam memilih sesuatu dan
meninggalkan yang lain. sehingga kita lebih bisa fokus kepada hal-hal yang
lebih penting. Gaya hidip esensialisme akan membuat kita punya kontrol atas apa
yang kita ingin kerjakan bukan karena paksaan situasi atau kondisi namun kita
memilih mana yang akan kita kerjakan.
Gaya Hidup Esensialisme, merupakan gaya
hidup yang kita pegang kendalinya. Artinya kita menentukan apa yang mau
kita kerjakan bukan hanya mengikuti alur saja. Ketika memilih sesuatu kita
harus berpikir dahulu bukan melakukannya dengan spontan. Kita hendaknya membuat
satu pilihan penting daripada banyak pilihan namun tidak penting. Sesekali kita
coba untuk berhenti melakukan semua hal, berhenti mengiyakan semua orang atas
kemauannya maka dengan begitu kita akan bisa lebih fokus dan memberikan hasil
yang lebih besar.
Mungkin kita sering melakukan pamer
kepada semua orang dengan kesibukan yang kita lakukan, kita mersa kalau kita
sibuk dipandang sebagai orang yang produktif. Padahal kesibukan bukanlah
tolak ukur dari produktivitas. Padahal, kesibukan merupakan teori tolak ukur
yang buruk dari produktivitas. Tolak ukur yang benar dalam penentuan
produktivitas adalah kita mampu memprioritaskan hal mana yang bermanfaat
bagi kita nantinya. Kita harus berani memilih pilihan yang sulit dan
mengorbankan banyak pilihan yang kurang penting demi sedikit hal penting dalam
hidup. Jika kita tidak memfokuskan energi kita pada hal yang kita prioritaskan,
maka orang lain yang akan mengatur pilihan kita. Pilihan orang lain belum tentu
baik bagi kita karena kita yang bisa mengukur kemampuan kita dalam melakukan
sesuatu hal dan bukan mereka.
Memang ketika kita hidup, kita akan
diberikan pilihan secara alami. Disitu kita berhak memilih dari beberapa
pilihan yang telah diberikan. Kadang apa yang kita kerjakan sama pentingnya
dengan apa yang kita tidak kerjakan. Maksudnya semua dari pilihan yang kita
buat pasti ada konsekuensinya. Jika kita melakukan semua hal apakah hasilnya
akan sesuai dengan harapan? Atau kita memilih salah satu pilihan dan fokus
menjalankan tugas itu dengan sebaik-baiknya. Ini adalah sebuah dasar pondasi
berpikir yang harus kita mengerti dan pahami. Jangan sampai kita terjebak
dangan banyaknya pilihan yang banyak namun kehilangan waktu dalam melakukan
tugas utama dalam hidup.
Pendekatan Hidup Esensialisme dibagi
menjadi tiga tahapan sebagai berikut.
1) Eksplorasi dan
Evaluasi
Dalam
tahapan ini, kita banyak-banyak melakukan proses eksplorasi, mendengarkan,
berebat, bertanya dan berpikir. Eksplorasi ini digunakan untuk memilah dan
memilah kegiatan mana yang akan dijadikan prioritas atau sebaliknya (ditinggalkan).
2) Hilangkan
Dalam tahapan
ini kita berhak memilih dan menghilangkan aktivitas mana yang berhak kita
lakukan dan mana yang kita hilangkan.
3) Jalankan (Implementasi)
Investasikan waktu
yang sudah dihemat dalam sebuah kerja dan membuat eksekusi yang semudah
mungkin.
Ketiga tahapan diatas adalah satu
kesatuan utuh dalam satu siklus yang bergantung satu sama lain.
2. Kemampuan Untuk Memilih
Pada tahapan ini seseorang dengan kemampuan hidup esesialisme jika
dihadapkan dengan dua pekerjaan maka dia akan menggunakan pemikiran kritis
untuk memilih salah satu yang lebih utama dan meninggalkan yang lain untuk bisa
fokus dan mendapatkan hasil terbaik. Meninggalkan pekerjaan lain artinya bukan
menyerah, namun itu merupakan salah satu proses kehidupan yang memang harus
dihadapi supaya kita lebih dewasa dan matang. Dengan memilih salah satu, kita
artinya juga tidak boleh menyia-nyiakan apa yang sudah kita pilih dan
menjalaninya dengan segala kemampuan yang kita miliki.
Ada sebuah prespektif lain yang mengatakan bahwa “tidak
mengerjakan apa-apa atau mengerjakan semua hal adalah tanda dari ketidak
berdayaan”. Artinya bahwasannya kita seharusnya memiliki space untuk
memilih sesuatu yang kita sudah anggap penting bukan menjadi pribadi yang pasif
karena ketidak tahuan akan sesuatu ataupun kita mengerjakan semua pekerjaan
karena tekanan dari orang lain.
Pernahkah kita merasa sangat bingung dengan banyaknya pekerjaan
yang harus kita lakukan? Apakah pernah kita merasakan karena terlalu banyaknya
pekerjaan menjadikan kita sampai tidak tahu mana yang harus dikerjakan terlebih
dahulu dan akhirnya sampai tidak melakukan pekerjaan itu sama sekali?. Untuk mengatasi
tekanan atas pekerjaan yang kita lakukan kita membutuhkan space to design
atau ruang cukup untuk menenangkan diri, fokus dan melihat pekerjaan mana yang
akan kita kerjakan dari berbagai sisi. Kita setiap hari harus meluangkan waktu
untuk melakukan space to design supaya kita bisa melepaskan kebingungan
dari banyaknya tugas atau rutinitas yang ada. Yang kedua, space to
concentrate. Space ini adalah waktu yang kita butuhkan untuk
berpikir. Sesibuk apapun jadwal perkerjaan yang kita lakukan hendaknya kita
harus mampu menyisipkan waktu untuk berpikir tentang prioritas memilih. Ketiga,
space to read. Dalam space ini kita bisa membaca-baca
banyak literatur baik itu penelitian, koran atau buku-buku bacaan yang relevan
untuk memperkaya pengetahuan kita tentang suatu sebelum kita memilihnya. Dalam tahap
ini pula kita memerlukan kondisi
lingkungan yang mendukung untuk terciptanya pikiran yang tenang dan kritis.
3. Berlatih Berpikir
Esensialisme
Secara singkat esensialisme kita artikan sedikit tapi lebih baik.
Dalam pilihan ini kita berperan sebagi
editor bagi kehidupan kita dengan memilih hal yang esensial dan menghindari hal
yang kurang esensial. Cara berlatihnya adalah dengan pola pikir ninety %
rule, cara ini dilakukan dengan melakukan penilaian pada beberapa pilihan
dengan satu kriteria penting. Lalu berikan skor dengan rentangan 0-100 pada
pilihan yang ada. Jika hasil yang didapatkan kurang dari ninty (90) maka
tinggalkan pilihan itu dan pindah pada pilihan yang melebihinya. Untuk memudahkan
dalam memilih priotitas, terdapat 4 Kuadran yang harus kita ketahui.
1) Penting dan
mendesak.
Dalam kuadran
ini kita hanya boleh memasukkan hal-hal yang penting dan mendesak yang harus
dikerjakan pada saat itu. Hal yang harus dihindari pada kuadran ini adalah menunda-nunda
waktu.
2) Dua Penting namun
tidak mendesak.
Pilihan
kedua ini adalah memasukkan hal-hal yang dianggap penting dan mengerjakannya sedikit
demi sedikit. Dalam kuadran ini kita harus membuat jadwal penyelesaian program
agar bisa selesai tepat waktu.
3) Mendesak namun tidak
penting.
Pada kuadran
kita memasukkan hal-hal yang kita anggap mendesak namun sifatnya tidak penting.
Dalam hal ini kamu bisa bertanya pada teman apakah dalam pekerjaan ini bisa
diwakilkan atau tidak.
4) Tidak penting dan
tidak mendesak.
Dalam kuadran
ini yang sering kita terjebak didalamnya seperti aktivitas memainkan media
sosial ketika jam kuliah atau rapat, menggosip dengan teman atau sibuk di depan
smartphone tanpa ada tujuan yang jelas.
“Dalam hidup kita harus memilih. Bukan masalah mempersempit pilihan
kita namun kita harus memberikan prioritas yang bermanfaat untuk kehidupan kita
sendiri, bukan orang lain”.
Pelajari materi lengkapnya di Channel Si Kutu Buku